Wednesday, 7 September 2022

Tahu dan Mau

Sumber : alkitab.mobi

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : Wahyu 1:1-3
Setahun : Yehezkiel 22-24

Tahu dan Mau
TB: Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi. Dan oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya, Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes. | Wahyu 1:1 (TB)



Bagian pembuka Kitab Wahyu ini menunjukkan empat hal. Pertama, Yesus Kristus berkenan memberikan wahyu (1). Kedua, wahyu itu bertujuan supaya orang-orang tahu hal yang akan segera terjadi (1). Ketiga, wahyu itu diberikan melalui malaikat kepada Yohanes (1-2). Keempat, orang yang berbahagia ialah yang mau membacakan, mendengarkan, dan menuruti wahyu itu (3).

Dari keempat hal itu, tampak bahwa Tuhan tidak ingin orang-orang percaya hidup dalam ketidaktahuan. Sebab, ketidaktahuan bisa menyebabkan kekhawatiran, yang pada akhirnya menimbulkan ketidakpercayaan. Terlebih lagi, pada saat itu, jemaat dianiaya oleh berbagai pihak karena iman mereka.

Tuhan hendak menguatkan iman mereka. Tuhan memandang perlu jemaat mengetahui hal-hal yang akan terjadi, baik maupun buruk, juga hal-hal yang bisa menjadi pengharapan mereka, tak lupa hal-hal yang perlu mereka lakukan dalam segenap kondisi itu. Catatannya adalah jemaat harus mau melakukan hal-hal yang ditunjukkan oleh Tuhan dalam wahyu itu. Tahu dan mau, itulah yang dikehendaki oleh Tuhan; tahu hal yang akan terjadi, mau melakukan hal yang semestinya dilakukan.

Kiranya hal itu tidak hanya berlaku bagi jemaat-jemaat yang dahulu menerima kiriman surat berisi wahyu kepada Yohanes. Firman Tuhan terbuka bagi kita pada saat ini, bahkan dapat kita baca dengan bahasa kita sendiri dalam bentuk buku cetak maupun digital. Di negara kita pun tak ada larangan untuk beredarnya Alkitab. Kita dapat dengan mudah mengakses firman Tuhan sehingga tahu hal-hal yang Tuhan firmankan kepada kita.

Untuk menjadi tahu itu mudah. Hanya saja, untuk menjadi mau, itu perkara lain. Orang bisa saja sangat tahu akan isi firman Tuhan, tetapi tidak mau melakukannya. Itulah tantangan saat ini. Kalau zaman dahulu, untuk tahu saja sulit karena keterbatasan teknologi, sekarang di tengah segala kemudahan, tantangannya adalah mau menuruti firman.

Marilah kita tidak menyia-nyiakan kemudahan mengakses firman Tuhan. Mari kita baca, tahu, dan menurutinya. [KRS]


Tuesday, 6 September 2022

MEMAHAMI KEHERANAN YESUS

Sumber : renunganharian.net

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : LUKAS 17:11-19
Setahun : Yehezkiel 20-21

MEMAHAMI KEHERANAN YESUS
Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring. (Lukas 17:15)

Suatu ketika saya mengajak sembilan anak untuk makan bersama di sebuah restoran. Melihat mereka menikmati hidangan dengan lahap, saya merasakan kebahagiaan yang tak dapat terlukiskan dengan perkataan. Menariknya, setelah kami selesai makan dan bersiap untuk kembali ke rumah di mana lokasi kegiatan berpusat, hanya satu anak yang mengucapkan terima kasih secara langsung, sedangkan delapan anak lainnya bersikap biasa saja.

Setiap kali mengingat peristiwa itu, saya mengerti alasan keheranan Yesus ketika melihat hanya ada satu orang kusta yang kembali kepada-Nya setelah mendapati dirinya sembuh. Ia bahkan mengungkapkan rasa syukurnya dengan tersungkur di hadapan Yesus. Namun ironisnya, sembilan orang lainnya yang juga mengalami kesembuhan tidak pernah kembali untuk berterima kasih atas mukjizat yang Yesus kerjakan atas diri mereka. Jika dipikir sikap kesembilan orang itu memang keterlaluan, seolah mereka tak pernah diajarkan untuk berterima kasih atas kebaikan atau pertolongan yang orang lain berikan. Terlebih mereka menerima pertolongan yang tidak biasa, karena kesembuhan dari kusta dan setelah dinyatakan tahir, maka sanksi sosial pun akan terhapuskan dari kehidupan mereka.

Namun, tanpa sadar terkadang kita berlaku seperti sembilan orang kusta tadi dalam merespons kebaikan Tuhan yang pernah kita terima. Kita lupa berterima kasih, terutama ketika menerima berkat yang menurut kita biasa atau wajar dialami orang percaya. Padahal, jika Tuhan menarik berkat itu dari hidup kita, mungkin keadaan kita takkan pernah sama.



BERTERIMA KASIH ADALAH BUKTI BAHWA KITA MENGHARGAI SETIAP KEBAIKAN ALLAH


Monday, 5 September 2022

Dengarkanlah!

Sumber : alkitab.mobi

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : Amsal 22:17-29
Setahun : Yehezkiel 17-19

Dengarkanlah!
TB: Pasanglah telingamu dan dengarkanlah amsal-amsal orang bijak, berilah perhatian kepada pengetahuanku. | Amsal 22:17 (TB)



Mendengarkan merupakan salah satu tindakan penting untuk dapat memahami sesuatu. Sebuah pesan dapat dipahami bila didengarkan dengan baik.

Bagi pengamsal, mendengar sama dengan memberi perhatian dan menyimpan dalam hati (18). Mendengar berarti memerhatikan dengan saksama dan tidak membiarkan sesuatu berlalu begitu saja, tetapi menyimpannya dalam hati.

Pertanyaannya ialah mendengarkan apa? Pengamsal menasihatkan agar penerima petuahnya memberi perhatian kepada amsal-amsal orang bijak (17). Maksudnya, nasihat dan pengetahuan tentang apa yang sungguh-sungguh benar (20). Dengan demikian, para anak didiknya menaruh kepercayaan kepada Tuhan (19) dan dapat memberikan jawaban yang tepat pada suatu waktu (21).

Bagi pengamsal, pengetahuan berasal dari Allah dan menuntun kepada Allah. "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian" (lih. Ams. 9:10). Takkan ada pengetahuan yang benar tanpa mengenal Yang Mahakudus. Apa yang sungguh-sungguh benar selalu bermuara pada kepercayaan akan Tuhan. Jika ada orang yang bertindak melawan Allah, pengetahuan yang diterimanya pasti tidak benar. Orang berhikmat ditandai dengan seberapa besar pengenalannya akan Allah dan kepercayaannya kepada Allah.

Untuk menjadi orang berhikmat, seseorang perlu mendengar perkataan Allah. Itulah perkataan yang sungguh-sungguh benar. Perkataan Allah itu telah lengkap dalam kanon Alkitab. Allah telah menyatakan diri-Nya dan jalan-jalan-Nya dalam Alkitab. Oleh karena itu, kita perlu mengembangkan kebiasaan untuk mendengar Allah melalui pembacaan Alkitab secara teratur.

Jika selama ini kita lebih banyak mendengar podcast para influencer dan terpengaruh olehnya, beralihlah kepada Alkitab. Kisah Allah tak tergantikan oleh cerita mereka. Kita seharusnya lebih terhisap masuk ke dalam kisah Allah ketimbang kisah manusia. Bagi pengguna Alkitab digital, jika Anda sedang merenungkan firman, lalu nada notifikasi gawai mendistraksi Anda, beralihlah ke Alkitab cetakan. [JMH]


Sunday, 4 September 2022

BERSUKACITALAH!

Sumber : renunganharian.net

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : 1 TESALONIKA 5:12-22
Setahun : Yehezkiel 14-16

BERSUKACITALAH!
Bersukacitalah senantiasa. (1 Tesalonika 5:16)

Saat memuridkan seorang jemaat di gereja, saya terkesan dengan hidup yang diungkapkannya. Jemaat tersebut merasakan ada perbedaan gaya hidup setelah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Ia mengatakan setiap hari hidupnya selalu bersukacita meski ia hanya seorang pedagang asongan di pinggir jalan. Sekalipun ia mengalami banyak tekanan dan tantangan berat, hal itu tidak membuatnya menggerutu melainkan ia bisa berespons dengan benar, berdoa dan bersukacita untuk kejadian tak enak yang sering dialaminya.

Paulus menasihatkan jemaatnya di Tesalonika untuk tetap bersukacita meski mereka harus mengalami penderitaan yang begitu rupa karena penganiayaan (ay. 14-16). Tantangan menjadi pengikut Kristus memang sungguh nyata dan benar-benar mereka alami, maka dari itu Paulus ingin jemaat memperkokoh komunitas mereka dengan menghormati pemimpin (ay. 12-13), hidup damai dan saling membangun (ay. 14-15), bersukacita (ay. 16), tekun berdoa (ay. 17), bersyukur (ay. 18), terus bersemangat (ay. 19), menguji diri dan menjauhkan diri dari kejahatan (ay. 20-22). “Bersukacita” memang sulit sekali diterapkan oleh orang-orang yang mengalami penderitaan. Tetapi dengan sukacita yang timbul dan meluap dari hati, seseorang akan dimampukan untuk melakukan kehendak Allah.

Kita bisa bersukacita dalam segala keadaan karena kita percaya bahwa penderitaan yang kita alami akan ada kedaluwarsanya. Tuhan Yesus ingin melatih anak-anak-Nya punya kualitas iman yang kokoh sebagai murid-Nya. Jadi, bersukacitalah karena penderitaan itu sementara.



SUKACITA AKAN MEMBUAT KITA MAMPU MELEWATI KERIKIL-KERIKIL TAJAM KEHIDUPAN INI


Saturday, 3 September 2022

Bekerja dan Menikmati Hasil

Sumber : alkitab.mobi

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : Amsal 21:16-31
Setahun : Yehezkiel 10-13

Bekerja dan Menikmati Hasil
TB: Orang yang menyimpang dari jalan akal budi akan berhenti di tempat arwah-arwah berkumpul. | Amsal 21:16 (TB)



Bagi pengamsal, kebijaksanaan seseorang dapat terlihat dari bagaimana ia bekerja dan menikmati hasil kerja. Seorang yang bijak adalah seorang yang menghasilkan sesuatu dalam hidupnya. Sebaliknya, seorang pemalas ialah orang yang tidak memiliki keinginan untuk menghasilkan sesuatu di dalam dirinya. Ia bukan hanya tidak menghasilkan sesuatu, melainkan juga tidak memiliki keinginan untuk menghasilkan suatu karya. Pada akhirnya, kata pengamsal, si pemalas akan dibunuh oleh keinginannya tersebut (25).

Seorang yang bijak adalah seorang yang menggunakan hasil kerjanya dengan arif (17, 20). Ia tidak akan kekurangan dan akan menjadi kaya. Bahkan, ia akan memberi kepada orang lain (26). Sebaliknya, seorang bebal adalah orang yang suka bersenang-senang dan gemar berpesta pora. Ia hanya mengikuti keinginan nafsunya semata-mata sehingga dengan sekejap menghabiskan apa yang telah diperolehnya.

Kita kiranya menyadari bahwa manusia adalah makhluk pekerja. Kita diciptakan untuk melanjutkan karya penciptaan Allah di dunia. Itulah mengapa Ia menempatkan kita di Taman Eden untuk memelihara dan mengusahakan apa yang telah dimulai oleh-Nya. Jadi, hendaklah kita tidak mengembangkan kemalasan dalam diri kita. Sebaliknya, kita harus bekerja dengan keras. Sebab, hanya orang yang bekerja keras dan mencucurkan air mata yang akan menghasilkan suatu karya dan mendapat buah kerja yang memuaskan. Tidak ada jalan pintas untuk menghasilkan karya yang "abadi" (lih. 20:17, 21, 23).

Kita harus menyadari bahwa hasil karya tangan kita yang dihargai oleh orang lain harus dipergunakan dengan baik. Kita bisa saja menggunakan semua penghasilan untuk diri kita. Namun, ingatlah bahwa dalam setiap penghasilan kita, ada bagian Allah dan orang lain di dalamnya. Sebelum menggunakannya, kita perlu menyisihkan apa yang sesungguhnya adalah milik Allah dan juga menyisihkannya untuk menolong orang lain. Hanya dengan memprioritaskan Allah dan orang lain, kita akan mampu meredam keinginan kita. [JMH]

Amsal 21:1-15

Tuhan menciptakan setiap manusia unik. Dia memberi kita tubuh yang istimewa untuk dipakai bagi kemuliaan-Nya. Ironisnya, sering kali manusia tidak memakai anggota-anggota tubuhnya sesuai tujuan yang Tuhan tetapkan.

Penulis Amsal dengan tegas menyebutkan bahwa mata yang congkak dan hati yang sombong adalah dosa. Lidah yang berdusta dan mulut yang suka bertengkar adalah kesia-siaan. Telinga yang tertutup terhadap kesusahan orang lain akan mendapat balasan dari Tuhan. Lalu, bagaimanakah seharusnya kita menjalani hidup yang berkenan di hadapan Tuhan?

Penulis Amsal mengajarkan empat hal, yaitu hidup dengan melakukan kebenaran dan keadilan, berlaku jujur, bersedia diajar, dan suka memberi. Keempat hal itu akan menolong kita menjalani hidup dan memakai tubuh kita sesuai tujuan Tuhan. Kiranya, mata dan hati kita terarah kepada perbuatan yang benar dan adil.


Friday, 2 September 2022

PENGGENAPAN PENUH

Sumber : renunganharian.net

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : 2 SAMUEL 5:1-5
Setahun : Yehezkiel 5-9

PENGGENAPAN PENUH
Maka datanglah semua tua-tua Israel menghadap raja di Hebron … kemudian mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel. (2 Samuel 5:3)

Seorang pemuda tergeletak kesakitan karena digigit ular. Ia lalu ditolong oleh seorang kakek. Tidak disangka, pemuda itu adalah saudagar kaya. Kepada kakek, ia menjanjikan 20 keping emas. “Padaku ada lima, sisanya kuberikan nanti,” janjinya. Beberapa hari kemudian, pemuda itu kembali. “Ini 15 keping sisanya,” katanya. Kakek itu terharu, “Tak kusangka kau kembali, padahal lima keping emas saja sudah cukup untukku.”

Di usia muda, Daud diurapi Samuel menjadi raja atas Israel (1Sam. 16:13). Sesudah hari pengurapan itu, Daud tidak langsung naik takhta. Pengurapan ibarat janji Tuhan. Ketika Daud melangkah menuju pintu penggenapan janji, ia menemukan bahwa jalan-jalan di sana tidak mulus. Saul dan pasukannya tidak henti-hentinya memburu Daud. Seperti telur di ujung tanduk, nyawa Daud sangat terancam. Tetapi Tuhan tidak melupakan janji-janji-Nya. Dengan cara-cara ajaib, diluputkan-Nya si penerima janji itu dari para pengejarnya. Sampai di satu titik, Daud berhasil menjadi raja atas Yehuda, satu suku di Israel (2Sam. 2:1-4). Faktanya, Tuhan bukan Pribadi setengah jalan! Penggenapan janji Tuhan tidak pernah berkurang dari isi janji itu sendiri. Pada akhirnya, Tuhan menjadikan Daud sebagai raja atas seluruh Israel (ay. 3).

Janji Tuhan bukan janji sembarang janji. Begitu janji itu terucap dari mulut-Nya, itu sudah sepaket dengan waktu penggenapannya. Jangan dulu berpuas hati andaikan sekarang ini kita baru mengecap nikmatnya kemasan dari janji-janji Tuhan. Sebaliknya, rindukan penggenapan penuh dari janji-janji-Nya yang akan digenapkan tepat pada waktu-Nya!



TIDAK ADA SEORANG YANG LEBIH BERINTEGRITAS TERHADAP JANJI-JANJIYANG DIUCAPKANNYA SELAIN DARI PRIBADI ALLAH


Thursday, 1 September 2022

Pikir Baik-baik

Sumber : alkitab.mobi

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : Amsal 20:16-30
Setahun : Yehezkiel 1-4

Pikir Baik-baik
TB: Ambillah pakaian orang yang menanggung orang lain, dan tahanlah dia sebagai sandera ganti orang asing. | Amsal 20:16 (TB)



Dalam hidup ini, kita perlu membuat pertimbangan dengan matang sebelum mengambil keputusan. Kita perlu berpikir dua kali sebelum memutuskan sesuatu dari berbagai pilihan yang ada. Hal itu berlaku untuk apa saja termasuk dalam ritual agama, finansial, dan berelasi dengan sesama.

Setiap keputusan memiliki konsekuensi positif maupun negatif. Keputusan yang dipertimbangkan dengan baik akan berhasil (18). Sementara itu, keputusan yang tidak dipertimbangan dengan baik akan mendatangkan penyesalan (25). Dengan kata lain, berpikir baik-baik adalah keniscayaan dalam pengambilan keputusan.

Oleh karena itu, pengamsal mengingatkan bahwa setiap keputusan haruslah melibatkan Tuhan. "Langkah orang ditentukan oleh TUHAN, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya?" (24; bdk. 16:1, 33). Artinya, hanya Allah yang mengetahui apa yang telah, sedang, dan akan terjadi dalam hidup seseorang. Itulah sebabnya, "Jangan pernah takut memercayakan masa depan yang tidak diketahui kepada Tuhan yang dikenal!"

Selain itu, Allah juga telah memberikan kemampuan kepada manusia untuk memilih sesuai kehendak Allah (27). Hati nurani merupakan terang dari Tuhan yang menyoroti seluruh batin. Artinya, manusia mampu membedakan apa yang tepat sesuai keinginan Allah.

Sekalipun demikian, kita tahu bahwa pilihan kita cenderung berdasarkan keinginan daging, keinginan mata, atau keangkuhan hidup. Oleh karena itu, kita harus terus-menerus menaklukkan keinginan-keinginan itu agar kita bisa memilih berdasarkan keinginan Allah.

Di tengah dunia yang bertindak menurut kebenarannya sendiri, keputusan yang sesuai kehendak Allah sering kali akan mendapat penolakan dan pertentangan. Keputusan kita akan dinilai bodoh oleh dunia karena keinginan dunia pasti berlawanan dengan keinginan Allah. Namun demikian, kita harus yakin bahwa "yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia" (lih. 1Kor. 1:25). [JMH]