Tuesday, 14 June 2022

PENGARUH RASA TAKUT

Sumber : renunganharian.net

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : YESAYA 51:7-16
Setahun : Ester 8-10

PENGARUH RASA TAKUT
Akulah, Akulah yang menghibur kamu. Siapakah engkau maka engkau takut terhadap manusia yang memang akan mati, terhadap anak manusia yang dibuang seperti rumput? (Yesaya 51:12)

Perasaan takut dapat memengaruhi cara kita bertindak. Sebagai contoh, penduduk asli Amerika tidak ingin mendengar cemoohan dari orang lain. Untuk menghindari pandangan negatif itu, mereka menggunakan cemoohan itu untuk mengajarkan aturan kemasyarakatan. Aturan itu dipakai oleh para orang tua saat mengajar anak-anaknya tentang apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Mereka tidak mengancam dengan hukuman bila mereka melanggar aturan itu. Sebaliknya mereka hanya mengingatkan si anak, "Seluruh orang di desa ini akan membicarakan banyak hal tentangmu jika kamu melanggar aturan itu." Ketakutan memengaruhi perilaku seseorang.

Namun tidak semua ketakutan dapat membentuk kehidupan seseorang menjadi baik. Apa yang menimpa orang-orang Israel menjadi contohnya. Tuhan mengingatkan umat-Nya untuk tidak takut jika orang lain mengaibkan atau menista mereka. Bahkan Tuhan berjanji akan membela mereka. Sayangnya umat Tuhan tidak percaya. Kata-kata buruk yang diucapkan orang membuat mereka takut dan membuat mereka berkompromi dalam kejahatannya dan melupakan Tuhan (ay. 12).

Kitab Amsal 29:25 mengingatkan kita bahwa "takut akan manusia" hanya akan mendatangkan jerat untuk kita. Bukankah acap kali kita “terpaksa” berkompromi dengan dosa karena ancaman dari orang-orang di sekitar kita? Apa pun alasannya, Tuhan tidak pernah melihat umat pilihan-Nya berkompromi dengan dosa. Tuhan menghendaki agar kita hanya takut kepada-Nya. Tunduk dan lakukanlah firman-Nya, siapa yang percaya kepada Tuhan, dilindungi.



KETAKUTAN PADA MANUSIA BERUJUNG KOMPROMI AKAN DOSA, RASA TAKUT KEPADA TUHAN AKAN BERUJUNG PADA KEHIDUPAN


Monday, 13 June 2022

Pesan bagi Para Pemimpi(n)

Sumber : alkitab.mobi

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : Yudas 1:8-13
Setahun : Ester 4-7

Pesan bagi Para Pemimpi(n)
TB: Namun demikian orang-orang yang bermimpi-mimpian ini juga mencemarkan tubuh mereka dan menghina kekuasaan Allah serta menghujat semua yang mulia di sorga. | Yudas 1:8 (TB)



Di dalam gereja asuhan Yudas, ada para pemimpi. Mereka mengeklaim bahwa mereka memiliki pesan dari Allah. Merekalah pemimpin gereja yang mengajar jemaat.

Sayangnya, para pemimpi ini bukan berasal dari Allah (bdk. Ul. 13:1-5; Yer. 23:16; Zak. 10:2). Alih-alih menghargai anugerah Allah, orang-orang ini mencemarkan tubuh mereka, menghina kekuasaan Allah, serta menghujat semua yang mulia di surga (8, 10). Seperti Kain, mereka tidak tunduk kepada ketetapan Allah (Kej. 4:5-8). Seperti Bileam, mereka melawan kekuasaan Allah (Bil. 22:21-33; 31:16). Seperti Korah, mereka mengajak orang lain untuk menghujat orang-orang pilihan Allah (Bil. 16:1-35).

Ini adalah masalah kemunafikan dan kerakusan (12). Mereka bertindak seolah-olah menghormati Allah, padahal menghormati diri sendiri. Mereka berlaku seolah-olah sedang mengajar hukum Allah, padahal sudah mengubahnya demi kepuasan diri sendiri.

Apa yang para pemimpin ini tidak sadari ialah mereka menabur kesia-siaan dan menggali kuburan mereka sendiri (12-13). Seperti Kain, Bileam, dan Korah, mereka akan dihukum. Kemunafikan dan kerakusan mereka akan dihentikan Allah. Kebinasaan akan menjadi upah mereka.

Sebagai jemaat, kita harus waspada dengan kehadiran para pemimpin lalim ini. Kita tidak boleh terbuai dengan klaim mereka bahwa mereka berasal dari Allah, menyuarakan pesan-Nya, dan bertindak sesuai pimpinan-Nya. Kita harus memerhatikan pesan yang mereka sampaikan dan bagaimana mereka hidup. Dari itulah kita tahu apakah mereka berasal dari Allah atau tidak.

Wahai pemimpin jemaat, ingatlah bagaimana Kain, Bileam, dan Korah dihukum Allah karena tindakan mereka. Karena itu, awasilah ajaran dan hidupmu. Bersungguh-sungguhlah dalam mempelajari firman Allah. Janganlah memalsukan firman Allah demi popularitas dan kebanggaan diri. Semua itu adalah kesia-siaan.

Janganlah berpura-pura, melainkan hiduplah secara autentik. Kepura-puraan adalah kepalsuan yang sia-sia, yang hanya akan menuntun jemaat menuju kehancuran. [JMH]


Sunday, 12 June 2022

MENGALAH UNTUK MENANG

Sumber : renunganharian.net

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : 2 RAJA-RAJA 18:26-37
Setahun : Ester 1-3

MENGALAH UNTUK MENANG
Tetapi rakyat itu berdiam diri dan tidak menjawab dia sepatah kata pun, sebab ada perintah raja, bunyinya: “Jangan kamu menjawab dia!” (2 Raja-raja 18:36)

Celaan yang dilontarkan oleh utusan raja Asyur saat bangsa itu sedang mengepung Yerusalem semakin membuat segenap bangsa putus asa, apalagi dengan lantangnya mereka mengatakan bahwa allah-allah bangsa lain tidak dapat berbuat apa-apa saat Asyur menyerang dan hal yang sama juga akan terjadi pada bangsa Israel. Namun, dengan tidak membalas caci maki tersebut dan berharap sepenuhnya kepada Tuhan, akhirnya Tuhan sendiri yang mengalahkan Asyur serta membuat Sanherib terbunuh.

Adakalanya ingin sekali kita membalas dengan telak hal menyebalkan yang menyerang kita, tetapi kisah bangsa Israel yang tidak tertarik untuk beradu mulut dengan juru minuman agung raja Asyur, melainkan memilih untuk berdiam diri di hadirat Tuhan, malah akhirnya memberikan kemenangan besar atas bangsa yang kuat itu. Meskipun kita merasa tidak diperlakukan dengan adil, memaksakan diri untuk menang atas orang lain yang menghina kita hanya akan menguras habis energi kita dan tidak akan ada perubahan yang berarti sampai kita menyerahkan permasalahan kita ke dalam tangan Tuhan.

Mari di bawah hikmat Tuhan dengan sabar kita menanggung cercaan yang bertujuan untuk melemahkan iman kita karena kalau kita membiarkan Dia yang mengatasi persoalan kita, niscaya “serangan” mereka tidak akan menggoyahkan kita sama sekali dan pada waktu-Nya, Tuhan sendiri yang akan menunjukkan kebesaran-Nya.



SABAR MENANGGUNG DERITA UNTUK SESAAT BERARTI MEMBIARKAN TUHAN BEKERJA DENGAN DAHSYATNYA


Saturday, 11 June 2022

Dibuang tetapi Disayang

Sumber : alkitab.mobi

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : Yeremia 52:31-34
Setahun : Nehemia 13

Dibuang tetapi Disayang
TB: Kemudian dalam tahun ketiga puluh tujuh sesudah Yoyakhin, raja Yehuda, dibuang, dalam bulan yang kedua belas, pada tanggal dua puluh lima bulan itu, maka Ewil-Merodakh, raja Babel, dalam tahun ia menjadi raja, menunjukkan belas kasihannya kepada Yoyakhin, raja Yehuda, dengan melepaskannya dari penjara. | Yeremia 52:31 (TB)



Yoyakhin adalah raja Yehuda keturunan Daud yang memerintah di usia 18 tahun. Sangat disayangkan bahwa ia menjadi pemimpin yang jahat.

Ketika Nebukadnezar, raja Babel, menyerang Yerusalem, Yoyakhin menyerah, sehingga bersama ibu, pegawai, dan ribuan prajuritnya ia ditawan ke Babel (bdk. 2Raj. 24:8-17).

Setelah 37 tahun ditawan, Ewil-Merodakh, sebagai raja Babel, menunjukkan belas kasihan dengan menjadikan Yoyakhin sebagai tahanan istana (31). Tak pernah terduga bahwa Yoyakhin akan dikeluarkan dari penjara dan tak mengenakan pakaian tawanan lagi. Ia diberi kedudukan yang lebih tinggi (32). Ia juga diberi anggaran belanja kebutuhan sehari-hari yang ditanggung raja (33-34).

Kisah Yoyakhin ini menjadi penutup Kitab Yeremia. Pada bagian sebelumnya, kepada kita diperlihatkan sikap raja-raja Babel yang kejam, tetapi kini yang diperlihatkan adalah sikap belas kasihan yang muncul dari seorang raja yang tidak menyembah Allah sebagai Tuhannya. Sisi kebaikannya muncul dalam tindakan menghargai dan menghormati seorang tawanan. Kitab Yeremia memperlihatkan dua sisi karakter raja Babel. Ada kebengisan dan kekejaman, namun juga ada sisi kebaikan dan belas kasih.

Sebagai tahanan dan orang buangan, Yoyakhin mungkin tak pernah memikirkan hal itu. Ia diperlakukan secara manusiawi, walau tetap sebagai tahanan. Yoyakhin dibuang Allah sebagai hukuman, tetapi tetap disayang dan dipelihara melalui Babel.

Hal ini sejajar dengan sikap Tuhan yang bisa memakai siapa saja untuk menghukum umat-Nya atau juga menghukum Babel. Demikian juga, Tuhan bisa memakai siapa saja untuk mewujudkan dan menyalurkan kebaikan-Nya bagi kita, bahkan teguran atau hukuman-Nya.

Allah dapat memakai siapa saja dan apa saja untuk memperingatkan atau memelihara hidup kita. Marilah kita selalu peka terhadap apa yang terjadi dalam hidup kita, sehingga kita bisa bersyukur atas setiap detail pemeliharaan Tuhan. Jangan pernah berhenti berharap untuk Tuhan menyatakan pertolongan-Nya yang tak dapat dibatasi oleh apa pun. [MKD]

Yeremia 52:31-34

Keberhasilan pada usia muda tidak menjamin hidup yang mulus. Seorang raja yang menyalahgunakan kejayaannya bisa dikejutkan oleh penghukuman Tuhan dan ditawan ke dalam pembuangan. Sepertinya segala sesuatu habis sudah. Tidak ada kekayaan, kenyamanan, kekuasaan, ataupun hak untuk membela diri.

Pada kondisi demikian, wajar bila seseorang berputus asa. Ia pasrah dalam deritanya dan tidak lagi menantikan kebaikan. Namun, ternyata belas kasih datang melalui tokoh yang tak disangka.


Friday, 10 June 2022

TEGUH MEMEGANG KEJUJURAN

Sumber : renunganharian.net

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : GALATIA 4:16-17
Setahun : Nehemia 11-12

TEGUH MEMEGANG KEJUJURAN
Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? (Galatia 4:16)

Kejujuran tentu adalah sebuah sikap yang sudah sepantasnya dilakukan dalam hidup kita. Tetapi banyak orang yang tidak menyukai kejujuran karena kejujuran sering kali justru menyakitkan hati. Hal ini karena kebenaran yang terungkap sering kali tidak sesuai dengan apa yang dipercaya, sehingga menimbulkan rasa sakit hati. Terlebih bila kejujuran itu diungkapkan dengan tujuan untuk menegur orang lain atas kesalahan yang mereka lakukan, maka bukan hanya akan menghasilkan sakit hati, tetapi juga dapat menghancurkan sebuah relasi pertemanan.

Kejujuran ini pulalah yang menjadi sikap Paulus ketika menegur dan mengingatkan jemaat di Galatia, karena mereka terhasut kepada ajaran yang menyesatkan. Paulus mengatakan bahwa ajaran sesat tersebut sesungguhnya tidak akan membawa keselamatan kepada mereka, tetapi hanya akan membelenggu mereka. Paulus menyadari, bahwa kejujurannya untuk mengungkapkan kebenaran tersebut dapat menghancurkan hubungannya dengan jemaat Galatia, bahkan dapat membuat mereka justru memusuhi Paulus. Tetapi Paulus teguh memegang kebenaran untuk tetap jujur kepada mereka, sekalipun risiko dari kejujurannya tersebut cukup berat. Hal tersebut dilakukannya supaya mereka sadar akan kesalahan mereka, sehingga mereka mau berbalik kembali kepada Kristus.

Keteguhan hati untuk tetap jujur dan mengungkapkan kebenaran seperti yang dilakukan oleh Paulus inilah yang patut kita teladani dan harus kita lakukan dalam hidup kita, sekalipun ada risiko yang harus ditanggung. Dengan senantiasa jujur terhadap sesuatu, kita mendapatkan kedamaian dalam hidup.



KEJUJURAN TERKADANG MENYAKITKAN, TETAPI LEBIH MENYAKITKAN LAGI APABILA KITA HIDUP DALAM KEBOHONGAN


Thursday, 9 June 2022

Sembunyi di Balik Kejayaan

Sumber : alkitab.mobi

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : Yeremia 51:36-64
Setahun : Nehemia 9-10

Sembunyi di Balik Kejayaan
TB: Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku akan memperjuangkan perkaramu, dan akan melakukan pembalasan untukmu: Aku akan mengeringkan lautnya dan akan menggersangkan sumber airnya; | Yeremia 51:36 (TB)



Allah menyerukan pengumuman kepada penduduk Yerusalem bahwa Allah akan memperjuangkan perkara umat-Nya dan membalas perbuatan-perbuatan musuh. Itulah bentuk hukuman pembalasan yang akan ditanggung oleh Babel.

Kemakmuran, kemegahan, dan kejayaan akan berubah menjadi kengerian dan ketandusan. Tuhan akan menghancurkan tembok Babel yang kokoh untuk mengeluarkan umat-Nya. Babel yang jahat telah merusak dan membunuh banyak orang di segenap penjuru bumi, dan Tuhan akan membalas hal itu. Tuhan berseru kepada orang-orang yang masih hidup dan terlepas dari Babel untuk mengingat-Nya (43-50).

Bagian ini diakhiri dengan malapetaka yang akan menimpa Babel, di mana kejayaannya akan tenggelam seperti kitab yang digantungi batu dan dilemparkan ke Sungai Efrat (59-64).

Babel merupakan negara adikuasa yang penuh kejayaan, kokoh, dan menakutkan bagi bangsa-bangsa lain. Kebengisan dan kekuatannya menjadi kegentaran banyak bangsa. Namun, kejayaan dan kehebatan itu, yang dikisahkan dalam bagian ini, hanya akan menjadi kenangan. Bahkan, tak akan ada lagi tempat untuk bersembunyi baginya.

Tak ada yang bisa dibanggakan dari kejayaan. Israel pernah jaya, tetapi kemudian hancur. Babel jaya, namun juga runtuh. Jangan bangga dengan kejayaan karena kelak ada masa pudar bagi kejayaan itu. Tak ada yang dapat dibanggakan selain hanya cerita akan kejayaan itu.

Jangan menjadikan kejayaan sebagai tempat bersembunyi paling aman, karena kejayaan hanya menempatkan kita selangkah dari kehancuran. Allah memorakporandakan kejayaan bangsa-bangsa karena di dalamnya selalu ada kecongkakan.

Apakah kejayaan kita? Pangkat, kedudukan, uang, aset, atau hal-hal lain? Firman Tuhan hari ini memberi pesan bagi kita untuk melihat bahwa kejayaan adalah berkat Allah, dan bukan untuk digunakan melawan-Nya. Jangan memburu kejayaan sampai mengorbankan ketaatan sebagai umat Tuhan. Berjayalah jika kita selalu berlindung pada-Nya. [MKD]


Wednesday, 8 June 2022

NARSISISME ROHANI

Sumber : renunganharian.net

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : LUKAS 15:11-32
Setahun : Nehemia 7-8

NARSISISME ROHANI
“Tetapi ia menjawab ayahnya: Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani Bapa … tetapi kepadaku belum pernah Bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.” (Lukas 15:29)

Seorang pemuda hidup setia kepada Tuhan. Namun, ia berubah kecewa dan marah. Sambil menunjuk teman-temannya yang belum mengenal Tuhan atau belum bersungguh-sungguh di dalam Tuhan, ia berkata, "Mengapa mereka mendapat hal-hal yang lebih baik dariku?"

Sikap pemuda tersebut merupakan gejala narsisisme rohani. Yohan Candawasa dalam bukunya Merupa Hidup Dalam Rupa-Nya menuliskan: "Narsisisme rohani terjadi jika manusia dalam hubungannya dengan Allah menganggap bahwa mereka telah beribadah dengan tekun kepada Tuhan—membicarakan tentang Allah, mencari wajah Allah siang dan malam, berdoa kepada Allah, bermeditasi, mengabdi dan melayani Allah, ... tetapi kenyataannya bukan mengembalikan hak Allah, melainkan memakai Allah untuk menikmati diri sendiri." Seorang narsis rohani selalu mengaitkan segala yang sudah dilakukannya dengan upah. Gejala serupa dialami si anak sulung. Mengetahui bapanya menyembelih anak lembu tambun demi menyambut kepulangan sang adik yang baru memboroskan uang—sementara ia menganggap dirinya yang sudah setia bertahun-tahun bekerja belum pernah menerima upah—ia menjadi marah.

Narsisisme rohani merupakan kesalahpahaman makna ibadah, di mana manusia tidak lagi mengutamakan Allah, tetapi diri sendiri dan kepuasannya. Lagi pula, seorang narsis rohani tidak menyadari bahwa segala yang terbaik dari Allah adalah miliknya. Tuhan tidak menghendaki kita menjadi narsis rohani. Sebaliknya, Dia ingin diutamakan dan dirindukan anak-anak-Nya. Benar-benar menjadi rohani atau sekadar narsis rohani, manakah diri kita di hadapan Allah?



TANPA PERLU BERSIKAP NARSIS ROHANI DI HADAPAN ALLAH, DIA TAHU APA YANG KITA BUTUHKAN DAN PASTI SELALU MEMENUHKANNYA