Sunday, 7 August 2022

Jangan Sok Kuat

Sumber : alkitab.mobi

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : Amsal 6:20-35
Setahun : Yesaya 32-37

Jangan Sok Kuat
TB: Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu. | Amsal 6:20 (TB)



Ada ungkapan, "Lelaki lemah terhadap tiga hal, yaitu harta, takhta, dan wanita." Di antara ketiganya, jelas wanita merupakan kelemahan pria yang paling besar. Bahkan, tak jarang kita mendengar tokoh-tokoh besar, termasuk pendeta, jatuh ke dalam jerat dosa perzinaan. Dengan kata lain, tak ada seorang pun yang kebal terhadap godaan perzinaan.

Penulis Amsal menggambarkan godaan tersebut dengan personifikasi perempuan jahat, perempuan asing, perempuan sundal, dan perempuan zina yang merupakan istri sesama. Perempuan-perempuan itu menjerat laki-laki muda untuk kepentingan perutnya sendiri (26). Namun, di balik pesona yang memikat, dosa perzinaan memiliki konsekuensi yang sangat serius. Konsekuensinya adalah tidak akan luput dari hukuman, membayar tujuh kali lipat dan harta seisi rumahnya harus diserahkan, merusak diri sendiri, mendapatkan siksa dan cemooh, serta malu yang tidak terhapuskan (29-34).

Selain adanya berbagai konsekuensi tersebut, penulis Amsal juga memberikan nasihat agar memelihara perintah ayah dan tidak menyia-nyiakan ajaran ibu (20). Ketaatan terhadap orang tua tidak dapat diabaikan, bahkan harus diingat dalam segala aspek kehidupan. Pasalnya, perintah dan ajaran orang tua ibarat lampu dan cahaya yang menerangi, memimpin, melindungi, dan menjaga anak-anak muda dari jeratan dosa perzinaan (21-23).

Dosa perzinaan begitu memikat dan tidak pandang bulu. Siapa pun bisa terjerat olehnya. Karena itu, penting bagi kita untuk memikirkan konsekuensi yang harus terjadi. Selain itu, seperti nasihat Amsal, kita harus menyimpan dan mengingat perintah Tuhan. Pasalnya, Iblis menggunakan berbagai trik untuk membuat kita jatuh. Dengan demikian, firman Tuhan adalah satu-satunya perisai kita.

Kita harus belajar dari seorang tokoh Alkitab, yaitu Yusuf, yang melarikan diri dari godaan dosa perzinaan ketika dihadapkan pada istri Potifar. Mari kita belajar dari penulis Amsal dan Yusuf; tak seorang pun kuat terhadap godaan zina. Karena itu, jangan sok kuat! [YGM]


Saturday, 6 August 2022

ANDAI PUNYA SAYAP

Sumber : renunganharian.net

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : MAZMUR 55
Setahun : Yesaya 27-31

ANDAI PUNYA SAYAP
Pikirku: “Sekiranya aku diberi sayap seperti merpati, aku akan terbang dan mencari tempat yang tenang.” (Mazmur 55:7)

Sebuah lagu yang dilantunkan Diva Idola Cilik berjudul “Andai Aku Punya Sayap” membuat saya terharu dan berpikir bahwa si pengarang lagu ini ingin mengajak seseorang tahu tentang dunia yang sangat indah, sampai-sampai ia ingin mengajak keluarganya terbang dan melihat ada kebaikan di luar sana yang bisa dinikmati. Ya, tatkala manusia merasakan banyaknya tekanan, ia bisa berandai-andai punya sayap dan terbang mencari tempat yang dapat membuatnya tenang.

Tekanan yang dialami pemazmur (ay. 9-15) membuatnya juga ingin terbang menjauh hendak menyingkir dan mencari perlindungan (ay. 7-9). Ia jujur mengatakan bahwa hatinya gelisah, takut dan gentar (ay. 5-6)—sungguh perasaan yang tidak menyenangkan. Meski mengalami perasaan tertekan yang sedemikian besar, ia tetap melihat Allah yang berdaulat atas kehidupannya. Ia berseru kepada Tuhan (ay. 17) dan dia merasakan ada pertolongan Tuhan (ay. 18-19) sehingga ia menasihatkan kita untuk menyerahkan semua permasalahan pada Tuhan (ay. 23) karena ia sudah mengalami pemeliharaan Tuhan.

Memercayakan hidup pada Tuhan merupakan sebuah bentuk latihan. Kita bisa saja berandai-andai memiliki sayap dan ingin terbang menjauhi permasalahan yang ada, tetapi ketika Tuhan ingin kita bertahan, ya bertahanlah! Dan mulai belajar untuk berserah pada maksud dan kehendak Tuhan. Tidak gampang karena kita butuh memercayakan hidup kita pada Tuhan secara total, tetapi kita juga dapat merasakan pemeliharaan-Nya.



PERCAYAKAN DIRI KEPADA TUHAN MAKA DIA AKAN MEMELIHARA HIDUPMU,JANGAN CEPAT-CEPAT INGIN TERBANG MENJAUH


Friday, 5 August 2022

Hidup dalam Kekudusan Keluarga

Sumber : alkitab.mobi

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : Amsal 5:7-23
Setahun : Yesaya 22-26

Hidup dalam Kekudusan Keluarga
TB: Sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, janganlah kamu menyimpang dari pada perkataan mulutku. | Amsal 5:7 (TB)



Pernikahan itu kudus, karena terjadinya pernikahan merupakan karya dan berkat Tuhan. Oleh sebab itu, setiap anggota keluarga, terutama suami dan istri, mempunyai tanggung jawab untuk menjaga kekudusan keluarga. Setiap anggota keluarga mempunyai tanggung jawab agar tidak sampai melanggar perintah Tuhan. Pelanggaran perintah-Nya menyebabkan keluarga kehilangan ketenteraman dan kebahagiaan.

Salomo yang telah menunjukkan betapa jahatnya perzinaan memberikan beberapa penangkal. Ia menasihatkan agar umat menikmati dan memuaskan diri dengan penghiburan dalam pernikahan sah yang telah ditetapkan (7-13). Orang muda dinasihati agar menikah dan tidak terbakar oleh hawa nafsu. Orang yang sudah menikah dinasihati agar bersenang-senang dengan pasangan hidupnya sendiri dan mensyukuri bahwa pasangannya itu adalah pemberian Allah.

Sudah sepantasnya hidup berbahagia dijalani dengan pasangan hidup yang dicintai (14-19), saling menyayangi dan mengasihi dengan mendalam, serta saling memuaskan hasrat, tidak mencarinya dari orang lain yang bukan pasangan hidupnya. Dengan demikian, kebahagiaan hidup bersama keluarga akan terus dirasakan.

Kunci hidup kudus dalam keluarga adalah takut dan hormat kepada Allah. Hal itu akan terwujud bila kita meyakini bahwa Allah senantiasa melihat semua tindakan manusia, termasuk apa yang ada di dalam hati dan pikiran. Allah akan meminta pertanggungjawaban atas segala yang dipikirkan dan dilakukan manusia.

Pernikahan adalah sebuah persekutuan yang dikuduskan oleh Allah dan perwujudan janji setia di hadapan Allah. Pernikahan kudus bermakna kelanggengan, keharmonisan, kedamaian, dan kesejahteraan. Maka, keluarga perlu dijaga kekudusannya dan suasana persekutuan dalam keluarga perlu diisi dengan cinta murni yang mau saling berbagi, saling menguatkan lahir dan batin, sehingga terjalin kesatuan hati.

Berdoalah agar Tuhan mengaruniakan hikmat sehingga kita mampu membina keluarga yang kudus dan bahagia. [CHR]


Thursday, 4 August 2022

SENJATA HIKMAT

Sumber : renunganharian.net 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : 2 SAMUEL 10
Setahun : Yesaya 15-21

SENJATA HIKMAT
“Kuatkanlah hatimu dan marilah kita menguatkan hati untuk bangsa kita dan untuk kota-kota Allah kita. TUHAN kiranya melakukan yang baik di mata-Nya.” (2 Samuel 10:12)

Di tengah persoalan, banyak orang berdoa kepada Tuhan. Sayangnya, seringkali mereka berhenti di situ. Padahal, di saat kita berdoa, saat itulah Tuhan memberikan kepada kita senjata hikmat. Berbekal hikmat dari Tuhan, kita diharapkan mampu menyusun strategi untuk keluar dari persoalan.

Bangsa Amon mengetahui bahwa setelah mereka mempermalukan para pegawai Israel, Daud membenci mereka. Demi melindungi diri, mereka menyewa orang Aram untuk berperang bersama melawan orang Israel. Yoab, sang panglima, mendapati dirinya telah dikepung dari dua sisi, dari depan dan dari belakang. Segera Yoab mengatur strategi, menempatkan Abisai, adiknya, memimpin satu kelompok pasukan, sedang ia sendiri memimpin kelompok pasukan lainnya. Sungguh menarik mendengar Yoab mengatakan, “... Tuhan kiranya melakukan yang baik di mata-Nya.” Tidak ada kepastian dari Tuhan bahwa hari itu bangsa Israel akan beroleh kemenangan. Sekalipun demikian, berbekal senjata hikmat dari Tuhan, bangsa Israel berjuang membuat strategi terbaik.

Di tengah persoalan, tidak dibenarkan kita duduk bersantai sambil mengatakan, “Berdoa saja dan biarkan Tuhan yang bertindak!” Berdoa memang perlu, namun kita juga tidak boleh berpangku tangan, menolak untuk berjuang. Berdoa tanpa berjuang ibarat pergi ke medan perang, namun enggan untuk bertempur. Jika demikian, mungkinkah kita dapat meraih kemenangan? Sekiranya hari ini kita menemukan diri berada dalam persoalan, berdoalah meminta senjata hikmat kepada Tuhan. Kemudian, gunakanlah senjata tersebut untuk menyusun strategi kemenangan. Hasil akhir memang milik Tuhan, namun perjuangan adalah bagian kita.



SERING KALI KEKALAHAN BUKAN KARENA MUSUH YANG TERLALU KUAT ATAUPERSENJATAAN YANG KURANG, NAMUN KARENA KITA YANG ENGGAN MENYERANG


Wednesday, 3 August 2022

Hidup dalam Hikmat Allah

Sumber : alkitab.mobi

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : Amsal 4:10-27
Setahun : Yesaya 10-14

Hidup dalam Hikmat Allah
TB: Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak. | Amsal 4:10 (TB)



Setiap orang tentu memiliki harapan dapat hidup panjang umur, bahagia, sejahtera, dan mulia. Akan tetapi, pada kenyataannya, banyak orang terjebak dalam sikap dan tindakan yang bertolak belakang dengan upaya terwujudnya harapan tersebut. Orang sering mengabaikan cara hidup yang dapat menjadikan panjang umur, bahagia, sejahtera, dan mulia.

Salomo memberikan nasihat kepada anaknya agar hidup dalam hikmat sesuai dengan maksud dan rencana Allah (10-13). Cara hidup yang demikian akan menghasilkan hidup yang baik dan penuh sukacita, hidup yang rohani dan bermoral, serta kehidupan kekal setelah kematian.

Hikmat akan memampukan kita membedakan yang benar dan yang salah, serta memilih untuk hidup baik dan benar. Dengan menjalani hidup baik dan benar, banyak orang akan bersahabat dengan kita. Hal itu akan membuat hidup kita penuh kedamaian dan kebahagiaan. Kehadiran damai dan bahagia dalam hidup kita membuat raga menjadi lebih sehat dan memiliki harapan hidup yang lebih panjang. Dengan hikmat kita dimampukan untuk terus mencari kehendak Tuhan dan hidup di dalamnya. Hidup kita akan menjadi penuh pengharapan karena kita terus menanti-nantikan Tuhan. Hidup yang demikian tentu akan menyenangkan hati Tuhan, sehingga kita akan dipenuhi rasa aman karena segala keperluan hidup kita dipenuhi oleh Tuhan yang mengasihi kita. Hikmat akan menuntun kita agar memiliki tujuan hidup yang lebih jelas serta menjalani hidup penuh makna. Itulah manfaat hidup dalam hikmat.

Tak ada seorang pun yang ingin menyia-nyiakan hidupnya. Sebaliknya, tentu orang ingin menikmati manfaat hidup dalam hikmat. Akan tetapi, banyak orang hidup dalam hikmat dunia dan merasa bahwa diri mereka telah meraih makna hidup, padahal mereka telah tertipu oleh hal-hal yang fana. Jelas, hanya hikmat Allah yang dapat menuntun kita menemukan makna hidup kekal.

Bersyukurlah bila kita telah hidup dalam hikmat Allah. Bila belum, mintalah kepada-Nya agar mengaruniakan hikmat-Nya dan memampukan kita untuk hidup di dalam-Nya. [CHR]


Tuesday, 2 August 2022

PERANGKAP KONYOL

Sumber : renunganharian.net

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : KELUARAN 32
Setahun : Yesaya 5-9

PERANGKAP KONYOL
Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: "Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami ….” (Keluaran 32:1)

Salah satu tantangan bagi pemimpin ialah adanya godaan untuk menyenangkan para pengikutnya, dengan cara yang keliru. Tidak berani menolak permintaan mereka, sekalipun jelas bertentangan dengan kebenaran. Memilih tetap populer dan mendapat pengakuan banyak orang, sekalipun menyimpang dari jalur yang seharusnya. Hanya cari aman, serta demi kenyamanan sendiri.

Harun terjebak dalam perangkap ini pada salah satu episode kepemimpinannya. Musa telah naik ke Gunung Sinai selama 40 hari, sedangkan seluruh umat berkemah di padang gurun. Selama absennya Musa, Harunlah pemimpin mereka. Lalu, umat itu meminta Harun membuat allah bagi mereka. Sebuah patung untuk disembah, yang akan memimpin mereka menuju Kanaan.

Mudah sekali melihat bahwa ini adalah permintaan yang salah dan konyol. Setelah mengalami berbagai mukjizat Allah untuk membebaskan mereka dari Mesir, bagaimana mungkin mereka berpikir bahwa Allah yang hidup dan berkuasa itu dapat diganti dengan sebuah patung? Namun yang lebih parah lagi adalah reaksi Harun. Ia tidak membantah atau mengoreksi mereka. Malahan, ia meminta anting-anting emas seluruh bangsa itu, lalu membentuknya menjadi patung lembu. Seluruh umat itu pun jatuh dalam penyembahan berhala, yang harus mereka bayar mahal dengan hilangnya tiga ribu nyawa.

Seperti Harun, terkadang kita bertindak secara salah bukan karena kita tidak mengetahuinya, namun karena kita lebih memilih untuk menyenangkan manusia. Satu kesalahan fatal yang nantinya kita sesali. Hendaknya kita terus belajar menaati Tuhan. Itulah yang menyenangkan hati-Nya.



MENGETAHUI KEBENARAN TIDAKLAH CUKUP,DIPERLUKAN KEBERANIAN UNTUK MENERAPKANNYA DALAM HIDUP


Monday, 1 August 2022

Hidup dalam Kebaikan

Sumber : alkitab.mobi

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : Amsal 3:27-35
Setahun : Yesaya 1-4

Hidup dalam Kebaikan
TB: Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. | Amsal 3:27 (TB)



Ada peribahasa "sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna". Peribahasa tersebut bisa menjadi gambaran penyesalan kalau kita menunda melakukan kebaikan dan berdampak pada penderitaan orang lain, padahal sebenarnya kita mampu melakukan perbuatan baik.

Ajakan untuk hidup dalam kebaikan itu disampaikan juga oleh penulis Amsal. Pertama, kita harus memberikan kepada semua orang apa yang sepantasnya diterima, baik karena keadilan maupun karena belas kasihan, dan janganlah menunda-nunda melakukannya. Sebuah kesalahan besar jika kita tidak melakukan hal yang adil atas hak orang lain, atau tidak menunjukkan belas kasihan kepada orang yang sungguh-sungguh memerlukan. Kita tidak boleh mencari-cari alasan untuk tidak melakukan apa yang menjadi kewajiban kita, juga tidak boleh merasa bahagia atas penderitaan yang dirasakan orang lain (27-28).

Kedua, kita diingatkan untuk tidak mencari-cari masalah yang dapat menimbulkan perpecahan dan pertengkaran. Jangan berupaya untuk merencanakan secara tersembunyi perbuatan-perbuatan jahat yang dapat mencelakai orang lain. Jika kita dianggap baik oleh seseorang, tetapi kemudian kita melakukan tindakan yang mencelakainya, hal itu adalah tindakan yang keji (29-30).

Ketiga, kita diajak untuk tidak iri hati kepada para pelaku kejahatan. Meskipun kelihatannya mereka hidup dalam kelimpahan, tentu sebenarnya hidup mereka tidak bahagia. Tak ada untungnya kita meniru mereka (31).

Untuk memotivasi orang agar mau hidup dalam kebaikan, penulis Amsal membandingkan keadaan para pendosa dengan orang-orang kudus. Ia mempertentangkan keduanya supaya tampak jelas kebahagiaan orang-orang kudus, sekalipun teraniaya, dan betapa sengsaranya orang yang berbuat jahat (32-35).

Bersyukurlah atas berkat yang diberikan Tuhan. Kiranya Ia mengaruniakan kemampuan agar kita dapat merencanakan dan melakukan kebaikan kepada sesama dengan berkat yang dikaruniakan-Nya, tepat pada waktunya dan tepat sasarannya. [CHR]