Sunday, 14 August 2022

KEDAHSYATAN NAMA YESUS

Sumber : renunganharian.net

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : KIS. PR. RASUL 16:16-24
Setahun : Yeremia 1-3

KEDAHSYATAN NAMA YESUS
Hal itu dilakukannya selama beberapa hari. Tetapi ketika Paulus tidak tahan lagi akan gangguan itu, ia berpaling dan berkata kepada roh itu, “Dalam nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini.” Seketika itu juga keluarlah roh itu. (Kis. Pr. Rasul 16:18)

Seorang pedagang menceritakan temuannya soal bunga, tanah kuburan, dan beberapa benda lain yang mendadak tersebar di sekitar kios usahanya di pasar. “Tampaknya ada yang tidak suka saya berjualan di sini, Pak Pendeta, sehingga menggunakan cara-cara klenik untuk menghancurkan usaha saya,” ceritanya kepada gembala gerejanya. Mendengar itu, sang hamba Tuhan bergegas menengok keadaan kios tersebut, lalu bersama-sama berdoa untuk mematahkan setiap upaya dan niat jahat menggunakan kuasa gelap tersebut di dalam nama Tuhan Yesus. Kuasa doa pun dapat dirasakan secara nyata, ketika usaha yang dijalankan bukannya semakin sepi, melainkan semakin ramai didatangi oleh para pembeli.

Kita meyakini bahwa kuasa nama Yesus sungguh dahsyat. Nama yang sanggup mematahkan praktik kuasa kegelapan yang mencoba mengganggu kehidupan umat Allah. Hal ini pun dialami Rasul Paulus dalam pelayanannya, ketika seorang wanita mengganggu dengan roh tenungnya, dengan perkataan yang tampak seperti sanjungan (ay. 17). Namun, Paulus yang mengenali tipu daya iblis lewat wanita itu, lalu memakai otoritas nama Yesus untuk mengusir roh yang ada dalam diri wanita petenung itu. Tak butuh waktu lama, roh itu seketika keluar meninggalkan tubuh wanita itu (ay. 18).

Dalam realitas kehidupan, terkadang orang dunia menggunakan kuasa kegelapan yang dianggap dapat memuluskan niatnya, sekalipun itu merugikan atau membahayakan orang. Namun, kita tak perlu takut karena ada kuasa nama Yesus yang dapat kita andalkan untuk melawan setiap praktik kuasa kegelapan.



NAMA YESUS MASIH BERKUASA SAMPAI HARI INI, DAPAT KITA ANDALKAN UNTUK MELAWAN PRAKTIK KUASA KEGELAPAN


Saturday, 13 August 2022

Bibir Sumber Kehidupan

Sumber : alkitab.mobi

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : Amsal 10:1-16
Setahun : Yesaya 64-66

Bibir Sumber Kehidupan
TB: Amsal-amsal Salomo. Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya. | Amsal 10:1 (TB)



Salah satu faktor yang menentukan kualitas hidup seseorang adalah bibir. Bibir merupakan alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. Bibir juga menjadi sarana komunikasi. Dari bibir keluar kata-kata berkat yang bisa memotivasi orang lain untuk melakukan kebaikan, menghibur, dan menguatkan. Namun, dari bibir pula bisa keluar kata-kata kutuk yang menyakitkan, bahkan yang menggerakkan orang lain untuk melakukan tindakan kejahatan.

Dari mulut orang benar bisa diharapkan keluar kata-kata baik dan benar yang membawa damai dan sukacita bagi orang yang mendengarnya. Karena itulah sumber kehidupan (11a).

Semua orang ingin hidup bahagia. Kebahagiaan bukan ditentukan semata-mata oleh harta atau tiadanya masalah. Itu ditentukan oleh sikap hati yang kemudian keluar melalui bibir. Ada ungkapan yang mengatakan, bukan bahagia yang membuat bersyukur, tetapi bersyukur menjadikan orang bahagia. Dan, ucapan syukur itu keluar dari bibir orang benar yang memiliki pengertian dan di dalamnya terdapat hikmat (13a).

Bahagia itu tidak hanya terkait dengan diri sendiri, tetapi juga terkait dengan orang lain di sekitar kita. Kita tidak akan mungkin bahagia ketika orang di sekitar kita tidak bahagia. Oleh karena itu, pilihan dan sikap hati saja belum cukup. Diperlukan juga ucapan-ucapan bibir yang menjadikan orang lain bisa bahagia. Oleh Amsal dikatakan, hati dan bibir yang mendatangkan kebahagiaan adalah sumber kehidupan, sumber yang terus mengeluarkan energi positif yang mendatangkan kebahagiaan, apa pun kondisinya.

Untuk menjadi orang yang sungguh-sungguh benar, kita butuh Sang Kristus karena setiap kita berdosa. Kita butuh Tuhan Yesus untuk terus menyucikan hati kita dari dosa sampai Ia datang lagi ke dunia menyempurnakan semua itu. Ia menganugerahkan Roh Suci yang menolong kita menjadi orang benar. Mari kita terus percaya dan bersandar pada Tuhan Yesus agar bibir kita menjadi sumber kehidupan yang senantiasa mendatangkan kebahagiaan, untuk kita dan orang lain. [MTH]

Amsal 7:1-5

Bagaimana pun seringnya sang ayah mengajar anaknya, jika si anak tidak mau berusaha keras untuk menaati dan menjalankannya, maka semua nasihat akan berlalu sia-sia. Nas hari ini menekankan pentingnya tanggung jawab agar anak dapat melakukan ajaran orang tuanya.

Sang anak harus berpegang pada perintah yang diberikan. Selain berpegang, ia juga harus menyimpan perintah itu seperti biji matanya sendiri. Biji mata merupakan bagian tubuh yang sangat berharga, tetapi juga rapuh, karenanya harus dijaga dengan hati-hati. Artinya, perintah itu harus diperlakukan seperti barang yang sangat bernilai, yang harus disimpan dengan baik.

Terakhir, sang ayah menasihati si anak untuk membangun relasi yang intim dengan hikmat. Tujuan membangun relasi yang intim dengan hikmat adalah supaya sang anak terhindar dari relasi dengan perempuan jalang.


Friday, 12 August 2022

PERLU RASA TAKUT

Sumber : renunganharian.net

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : ROMA 11:11-24
Setahun : Yesaya 58-63

PERLU RASA TAKUT
Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak dalam iman. Janganlah sombong, tetapi takutlah! (Roma 11:20)

Masuk dalam tiga besar membuat seorang kontestan merasa sangat bangga. Ia terharu sekaligus bersyukur, karena tidak menyangka akan mendapat kesempatan itu. Alih-alih menjadi sombong, ia justru dihantui rasa takut. Ia takut jika pada pertandingan berikutnya tidak dapat membuktikan kualitas yang selayaknya ditampilkan oleh seorang tiga besar. Karenanya, sejak saat itu ia semakin giat mengasah kemampuan guna melayakkan diri.

Israel adalah bangsa pilihan Allah. Namun mereka tidak setia kepada Allah. Karena itu Israel harus menanggung konsekuensi, yakni kebinasaan. Sebaliknya, bangsa-bangsa bukan Yahudi berkesempatan menerima anugerah besar dari Allah. Meski demikian, Paulus mengingatkan agar kesempatan ini tidak membuat mereka menjadi sombong. Mereka justru harus merasa takut, seandainya mereka pun “dipangkas”. Rasa takut dicampakkan Allah ini perlu guna mendorong umat bertekun menjaga anugerah-Nya melalui hidup yang taat. Sebab, jika Tuhan tidak menyayangkan bangsa Israel yang notabene merupakan bangsa pilihan-Nya sendiri, terlebih terhadap orang di luar Israel!

Sekalipun bermurah hati membuka anugerah bagi bangsa non-Israel, Allah tetap memegang prinsip dalam ketetapan, keadilan dan kebenaran-Nya. Bukan hanya iman mula-mula yang diharapkan-Nya dari kita, melainkan iman yang berkelanjutan. Iman yang terus bertumbuh, bahkan menghasilkan buah. Karena itu jangan sampai anugerah Tuhan menjadikan kita sombong. Sebaliknya, kita terus memperjuangkan kekudusan karena rasa takut akan Dia.



BUKAN PERGUMULAN BERAT, BUKAN PULA HARAPAN AKAN MASA DEPAN.ORANG KRISTEN HANYA PERLU MERASA TAKUT DICAMPAKKAN OLEH TUHAN.


Thursday, 11 August 2022

Dapat Hikmat, Dapat Semua

Sumber : alkitab.mobi

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : Amsal 8:22-36
Setahun : Yesaya 52-57

Dapat Hikmat, Dapat Semua
TB: TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. | Amsal 8:22 (TB)



Ungkapan, "sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui" menyingkapkan keinginan untuk melakukan satu hal, namun mendapatkan hasil-hasil yang lain sekaligus.

Dalam bacaan hari ini, hikmat dikatakan sebagai permulaan segala pekerjaan Allah (22). Hikmat sudah ada sebelum segala sesuatu ada (29). Bahkan, bukan hanya ada sebelum segala sesuatu, hikmat disebut juga sebagai anak kesayangan Tuhan yang ikut bersama-sama dalam menjadikan segala sesuatu (30-31). Oleh karena itu, mendengarkan dan menerima Sang Hikmat merupakan sebuah alasan yang paling logis untuk bisa menerima segala hal yang baik.

Hal itu dipertegas oleh penulis Amsal yang menyatakan "siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan TUHAN berkenan akan dia. Tetapi siapa tidak mendapatkan aku, merugikan dirinya" (35-36). Pernyataan itu tidak berlebihan, malahan sangat terjamin. Pasalnya, Sang Hikmat adalah pemilik segala sesuatu. Oleh karena itu, ketika dia mengatakan "mendapatkan aku, mendapatkan hidup" hal itu merupakan sebuah kalimat dengan jaminan yang pasti.

Oleh karena itu, ketika sudah mendapatkan Sang Hikmat, maka kita tidak boleh melepaskannya dengan alasan apa pun. Justru sebaliknya, kita harus melepaskan banyak hal lain agar bisa memiliki Sang Hikmat. Pasalnya, tak ada lagi yang dapat memberikan jaminan seperti itu. Hanya Sang Hikmat yang memiliki legitimasi paling kuat dan paling logis.

Ada satu frasa dalam lagu Mandarin yang jika diterjemahkan, artinya "berkat terindah dalam hidup ini adalah dapat mengenal Yesus". Ada pula frasa dalam salah satu kidung pujian yang berbunyi "Kaulah Tuhanku surya hidupku, asal Kau ada, yang lain tak perlu". Dua buah frasa itu mengungkapkan rasa syukur yang begitu mendalam karena telah mengenal Sang Hikmat. Pasalnya, Sang Hikmat telah memberikan jaminan yang indah bahwa mendapatkan Dia berarti mendapatkan segala yang baik.

Oleh karena itu, mari kita bersama bersyukur karena telah memiliki Yesus, Sang Hikmat Allah. [YGM]


Wednesday, 10 August 2022

MURAH HATI ATAU KEJAM?

Sumber : renunganharian.net

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : AMSAL 11:17
Setahun : 

MURAH HATI ATAU KEJAM?
Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri. (Amsal 11:17)

Dahulu saya agak malas mengenakan jas hujan ketika berkendara dalam kondisi hujan. Kecuali hujan cukup lebat, saya akan bertahan dengan prinsip tersebut. Sampai suatu ketika saya menyadari bahwa tindakan tersebut kurang tepat. Ya, sebenarnya dengan berkendara menembus hujan tanpa mengenakan jas hujan, berarti saya sedang menyiksa diri sendiri. Saya sedang membiarkan tubuh saya lebih rentan terhadap penyakit karena hujan yang langsung menerpa tubuh saya. Akhirnya, saya pun mulai belajar untuk mengubah kebiasaan tersebut setelah menyadari kekeliruan saya.

Menurut Salomo, penilaian apakah seseorang murah hati atau kejam sangat sederhana, yakni dengan melihat cara orang tersebut memperlakukan dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang membiasakan sarapan sebelum beraktivitas pagi, orang itu sedang berbuat baik kepada dirinya, dengan memberi asupan makanan bergizi. Begitu pula ketika ia sedang dalam kondisi kurang fit atau lelah, lalu memberi waktu istirahat buat tubuhnya, ia pun sedang berbuat baik terhadap dirinya. Selain dua contoh di atas, kita tentu dapat menambahkan contoh lainnya menurut pengalaman pribadi kita.

Allah menghendaki agar kita sebagai orang percaya semakin cakap dalam mengasihi dan memedulikan diri sendiri, sebagai wujud nyata dari menghargai tubuh sebagai Bait Roh Kudus. Bagaimana dengan kecenderungan sikap dan perlakuan kita terhadap diri sendiri? Sudahkah kita bermurah hati kepada diri sendiri, supaya dalam kondisi tubuh yang baik dan sehat dapat kita pergunakan untuk memuliakan Tuhan?



ORANG YANG BERMURAH HATI KEPADA DIRINYA, SEBENARNYAIA SEDANG MENGASIHI ALLAH YANG MENCIPTAKAN TUBUHNYA


Tuesday, 9 August 2022

Orang Bodoh yang Terbelenggu

Sumber : alkitab.mobi

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : Amsal 7:6-27
Setahun : Yesaya 43-46

Orang Bodoh yang Terbelenggu
TB: Karena ketika suatu waktu aku melihat-lihat, dari kisi-kisiku, dari jendela rumahku, | Amsal 7:6 (TB)



Secara sederhana, belenggu adalah sesuatu yang dipakai untuk mengikat seseorang. Belenggu biasa digunakan oleh orang-orang yang melakukan suatu kejahatan agar dia tidak dapat melarikan diri. Dengan demikian, terbelenggu merupakan suatu keadaan di mana seseorang tidak bebas karena kaki atau tangannya sedang terikat oleh sesuatu.

Penulis Amsal menggambarkan anak muda yang menikmati dosa perzinaan seperti orang bodoh yang terbelenggu (21). Mengapa disebut bodoh? Karena mereka dengan sengaja menghampiri godaan tersebut (7-8). Kita tidak tahu apa motifnya, namun yang jelas anak muda lugu itu sedang menjerumuskan dirinya sendiri. Apalagi, si perempuan licik tersebut bukan sosok yang mudah menyerah. Dia menggunakan berbagai trik dan rayuan mautnya, sehingga anak muda bodoh tersebut akhirnya jatuh ke dalam godaan (10-21).

Bahkan, Amsal menyebut anak muda itu seperti lembu yang akan dibawa ke pejagalan (22), seperti burung yang masuk perangkap, namun tidak sadar hidupnya sedang terancam (23).

Penulis Amsal dengan serius menasihati agar anak muda tidak masuk dalam perangkap perempuan tersebut (25). Pasalnya, banyak orang yang telah mati dibunuh dan akhir dari semua itu adalah masuk ke dalam dunia orang mati (26-27).

Senada dengan Amsal, Rasul Paulus juga pernah menulis hal serupa dalam Roma 6:15-23. Paulus menuliskan tentang kemerdekaan seorang anak Tuhan, yaitu ketika terbebas dari belenggu dosa. Satu-satunya yang dapat membebaskan dari belenggu dosa adalah Tuhan Yesus Kristus.

Selama masih hidup, kita akan menemukan "perempuan-perempuan" licik seperti itu. Jangan terjebak! Penulis Amsal telah mengingatkan kita akan konsekuensi-konsekuensinya yang sangat mengerikan. Bersyukur kita mengenal Yesus Kristus yang telah membebaskan kita dari belenggu dosa. Oleh karena itu, akuilah bahwa kita adalah anak muda bodoh yang terbelenggu. Kita membutuhkan Tuhan Yesus untuk melepaskan diri kita dari belenggu dosa yang menjerat kita. [YGM]


Monday, 8 August 2022

MENYERGAP DALAM SENYAP

Sumber : renunganharian.net

 



RENUNGAN HARIAN
Bacaan : AMSAL 14:21
Setahun : Yesaya 38-42

MENYERGAP DALAM SENYAP
... berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita. (Amsal 14:21b)

“Makan di rumah saja ya,” kata ibu itu kepada anaknya. “Uang kita habis untuk beli tiket kereta. Sisanya cuma cukup untuk naik angkutan kota.” Sambil menangis, balita itu mengangguk. Melihat itu, Nino membatalkan niatnya untuk makan di warung. “Terimalah, Ibu, saya mohon. Sekadar untuk makan siang,” kata Nino seraya mengulurkan selembar seratus ribuan.

Turun dari kereta, dengan perut kosong, Nino harus berjalan kaki hampir dua kilometer untuk sampai di rumah. Sisa uangnya tak lagi cukup untuk naik ojek. Meski begitu, ia merasa bahagia.

Pengalaman Nino tak asing buat kita: Melihat sesama menderita, hati kita tergerak oleh belas kasihan, dan menuntut agar kita berusaha menolong. Tuntutan hati itu begitu kuat hingga terasa sebagai kewajiban yang tak bisa ditolak.

Tuhan bersabda, “Berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita.” Tuhan berjanji, jika kita menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita—yakni ketika tuntutan hati untuk menolong sesama sungguh kita wujudkan— kita akan diliputi kebahagiaan. Kebahagiaan yang berbeda, yang kita alami bukan karena mendapatkan yang kita ingini, bukan karena kita mengharap apalagi mengejarnya, melainkan karena kita mengusahakan kebahagiaan sesama begitu rupa hingga justru lupa kebahagiaan sendiri. Kebahagiaan ini menyergap diam-diam, menyelinap senyap tak terduga, dan tahu-tahu sudah memenuhi hati.

Tahukah Anda bagaimana rasanya disergap kebahagiaan seperti itu? Anda benar, itu sangat indah. Sungguh sangat indah.



KETIKA DORONGAN HATI UNTUK MENOLONG SESAMASUNGGUH KITA REALISASIKAN, KITA AKAN DILIPUTI KEBAHAGIAAN